Rabu, 24 Agustus 2016

Semiloka Pembinaan Pendidikan Agama dan Akhlak Mulia

Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah (Ditjen Dikdasmen) menggelar Seminar dan Lokakarya (Semiloka) Pembinaan Pendidikan Agama dan Akhlak Mulia, Kegiatan diikuti 60 peserta yang terdiri dari unsur dinas pendidikan provinsi/kabupaten/kota, komite sekolah, guru dan kepala sekolah dari satuan pendidikan tingkat SD, SMP, SMA, dan SMK, dan pemerhati pendidikan/akademisi.
ketua panitia Semiloka Pembinaan Pendidikan Agama dan Akhlak Mulia,  I Wayan Ardana mengatakan “Nara sumber utama adalah Prof. Dr. Baedowi, M.Si., sementara fasilitator FGD adalah tim pengembang pusat yang terdiri dari unsur Kemendikbud, Kemenag, perguruan tinggi, dan dinas pendidikan,” katanya seperti dilansir dikdas.kemdikbud.
Semiloka yang bertema “Menciptakan Ekosistem Sekolah untuk Menumbuhkan Akhlak Mulia/Budi Pekerti Anak Bangsa” ini merupakan kegiatan yang berkesinambungan. Pada tahun 2015, telah diselenggarakan program Penciptaan Lingkungan Sekolah untuk Menumbuhkembangkan Nilai-Nilai Akhlak Mulia di SD dan SMP. Beberapa kegiatan di antaranya adalah Sosialisasi dan Pemberian Bantuan Sosial Pembinaan Pendidikan Agama dan Akhlak Mulia. Selain itu juga dilaksanakan Semiloka Pembinaan Pendidikan Agama dan Akhlak Mulia pada tanggal 21-24 April 2015, dengan tema “Penguatan Budaya Sekolah untuk Pengembangan Nilai Akhlak Mulia secara Kontekstual”.
Kegiatan dengan kepanitiaan dari staf Subbag Tata Usaha Bagian Umum dan Kepegawaian, Sekretariat Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah, ini memiliki 4 tujuan. Pertama, menggali pengalaman baik sekolah dalam membangun ekosistem sekolah untuk menumbuhkan akhlak mulia anak bangsa dengan memanfaatkan kearifan lokal. Kedua, mengidentifikasi kebutuhan sekolah dalam membangun ekosistem sekolah untuk menumbuhkan akhlak mulia anak bangsa sebagai generasi emas. Ketiga, menghimpun pemikiran dari berbagai kalangan pemangku kepentingan dalam mewujudkan ekosistem sekolah untuk menumbuhkan akhlak mulia anak bangsa dengan memanfaatkan kearifan lokal. Keempat, merumuskan alternatif kebijakan pendidikan dalam mewujudkan ekosistem sekolah dengan memanfaatkan kearifan lokal untuk menumbuhkan akhlak mulia anak bangsa dalam konteks kebangsaan dan kebhinekaan.
Konsep Kegiatan
Sesuai dengan namanya, kegiatan ini terdiri dari seminar dan lokakarya. Seminar dilakukan dua tahap. Pertama, seminar tentang pengalaman baik sekolah dalam membangun ekosistem sekolah untuk menumbuhkan akhlak mulia anak bangsa, yang akan diisi oleh satuan pendidikan berbasiskan budaya keagamaan (Darul Hikam, Kanisius, dan Budha Tzu Chi), sekolah negeri (SMAN 1 Denpasar), dan sekolah kejuruan (SMKN 57 Jakarta). Tahap pertama ini dilaksanakan pada Rabu, 24 Agustus 2016.
Seminar tahap kedua dilaksankan pada Kamis, 25 Agustus 2016, dengan tema Kerangka Konseptual dan Problematik Membangun Ekosistem Sekolah yang Menumbuhkan Akhlak Mulia/Karakter Anak Bangsa.
Sementara lokakarya dikemas dengan nama Focus Group Discussion(FGD). FGD pertama bertujuan melakukan identifikasi kebutuhan sekolah dalam membangun ekosistem sekolah untuk menumbuhkan akhlak mulia anak bangsa sebagai generasi emas. FGD ini terdiri dari tiga kelompok. Kelompok I terdiri dari unsur SD, dinas pendidikan, dan pemerhati pendidikan. Kelompok II terdiri dari unsur SMP, dinas pendidikan, dan pemerhati pendidikan. Kelompok III terdiri dari unsur SMA, SMK, dinas pendidikan, dan pemerhati pendidikan. Masing-masing kelompok ini akan didampingi fasilitator.
Pada FGD kedua, peserta terdiri dari dinas pendidikan provinsi/kabupaten/kota, kepala sekolah, guru, dan komite sekolah dari SD, SMP, SMA, SMK, dan pemerhati pendidikan/akademisi, serta tim pengembang pusat. FGD kedua ini bertujuan mengakomodir pemikiran dari berbagai kalangan dan pemangku kepentingan dalam membangun ekosistem sekolah untuk menumbuhkan akhlak mulia anak bangsa.
FGD pertama dan kedua di atas, dilaksanakan pada Rabu, 24 Agustus 2016, setelah pelaksanaan seminar tahap pertama.
Sedangkan pada Kamis, 25 Agustus 2016, setelah pelaksanaan seminar tahap kedua, akan dilakukan perumusan aneka alternatif kebijakan pendidikan pembangunan ekosistem sekolah, dan ditindaklanjuti dengan laporan tim perumus dengan penyerahan laporan kepada Ditjen Dikdasmen.